Boston – Prancis menutup fase grup Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 4-1 atas Norwegia. Hasil tersebut memastikan Les Bleus menyapu bersih tiga pertandingan Grup I, sekaligus mengirim pesan kuat kepada para pesaing bahwa mereka bukan hanya mengandalkan Kylian Mbappe. Pada laga ini, justru Ousmane Dembélé yang mencuri perhatian lewat hat-trick impresif.
Meski skor akhir terlihat mencolok, pertandingan berlangsung dalam situasi yang tidak sepenuhnya ideal bagi Norwegia. Pelatih Ståle Solbakken memilih melakukan rotasi besar dengan mengganti 10 pemain inti setelah timnya sudah memastikan tiket ke babak 32 besar. Nama-nama seperti Erling Haaland dan Martin Ødegaard sengaja diistirahatkan demi menjaga kebugaran menghadapi fase gugur, sementara sejumlah pemain pelapis mendapat kesempatan tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia.
Keputusan tersebut memang membuat kualitas permainan Norwegia menurun drastis. Prancis memanfaatkan kondisi itu dengan mendominasi penguasaan bola sejak awal pertandingan. Dembélé membuka keunggulan sebelum menambah dua gol lainnya untuk menggenapi hat-trick, sedangkan satu gol Les Bleus lainnya melengkapi pesta gol ke gawang wakil Skandinavia tersebut. Di sisi lain, Norwegia hanya mampu membalas satu gol melalui titik penalti setelah Theo Hernandez melakukan pelanggaran di kotak terlarang.
Penampilan Dembélé menjadi sorotan utama karena menunjukkan betapa berbahayanya lini serang Prancis. Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju kepada Mbappe, tetapi kehadiran Michael Olise, Bradley Barcola, Désiré Doué, Rayan Cherki hingga Marcus Thuram membuat beban mencetak gol tidak lagi bertumpu pada satu pemain. Variasi serangan inilah yang dinilai menjadi salah satu kekuatan terbesar Les Bleus di turnamen kali ini.
Reuters bahkan menggambarkan lini depan Prancis sebagai sesuatu yang "menakutkan" karena para penyerangnya belum pernah mencapai performa terbaik secara bersamaan. Dalam tiga pertandingan fase grup, ancaman datang bergantian dari berbagai pemain. Saat Mbappe tidak menjadi pusat perhatian, Dembélé tampil menentukan. Ketika lawan berhasil membatasi satu pemain, masih ada sejumlah penyerang lain yang mampu mengambil alih pertandingan. Kedalaman skuad seperti ini menjadi kemewahan yang tidak dimiliki banyak negara peserta.
Meski demikian, kemenangan besar atas Norwegia tidak langsung dijadikan tolok ukur kekuatan sesungguhnya Prancis. Rotasi besar yang dilakukan Solbakken membuat kualitas lawan berbeda dibandingkan dua pertandingan sebelumnya. Pelatih Norwegia pun menegaskan bahwa keputusan mengistirahatkan para pemain inti merupakan bagian dari strategi jangka panjang karena prioritas utamanya adalah babak gugur, bukan mengejar status juara grup.
Didier Deschamps justru memperoleh keuntungan besar dari pertandingan tersebut. Selain mengamankan posisi puncak klasemen, ia melihat para pemain depannya semakin percaya diri menjelang fase gugur. Kombinasi kecepatan, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan peluang membuat Prancis tampil sebagai salah satu tim paling produktif sepanjang fase grup. Namun, Reuters mengingatkan bahwa ujian sesungguhnya baru akan datang ketika mereka menghadapi lawan yang memiliki kualitas lebih seimbang.
Kemenangan atas Norwegia akhirnya menjadi penutup sempurna perjalanan Prancis di Grup I. Les Bleus tidak hanya lolos dengan rekor sempurna, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka memiliki banyak cara untuk memenangkan pertandingan. Jika Dembélé mampu mempertahankan ketajamannya dan Mbappe terus menjadi ancaman utama, Prancis berpeluang menjadi tim dengan lini serang paling mematikan dalam perburuan gelar Piala Dunia 2026.

Posting Komentar
Posting Komentar