Perjalanan Ousmane Dembélé di fase grup Piala Dunia 2026 menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Jika pada laga pembuka penampilannya sempat menuai kritik, tiga pertandingan kemudian justru membuktikan mengapa Didier Deschamps terus menaruh kepercayaan kepada peraih Ballon d'Or tersebut. Dembélé berkembang menjadi salah satu senjata paling berbahaya dalam lini serang Prancis, sekaligus melengkapi peran Kylian Mbappe dan Michael Olise yang lebih dulu mencuri perhatian.

Saat menghadapi Senegal, Dembélé memang belum tampil seefektif yang diharapkan. Sejumlah media dan pengamat di Prancis menilai pengaruhnya dalam pertandingan masih kalah dibanding Mbappe maupun Olise. Bahkan muncul pertanyaan apakah Deschamps telah menemukan posisi terbaik bagi Dembélé di tim nasional, mengingat perannya di Paris Saint-Germain lebih bebas dibanding sistem yang diterapkan Les Bleus. Namun, Mbappe justru membela rekan setimnya itu. Sang kapten menegaskan bahwa Dembélé adalah penyerang terbaik Prancis pada babak pertama karena pergerakannya terus membuka ruang bagi pemain lain, meski kontribusinya tidak selalu terlihat dalam statistik gol maupun assist.

Kepercayaan tersebut mulai terbayar pada pertandingan kedua melawan Irak. Dembélé tampil jauh lebih agresif dalam duel satu lawan satu, lebih sering menusuk dari sisi kanan, dan mampu membangun koneksi yang lebih baik dengan Mbappe maupun Olise. Pergerakannya membuat pertahanan Irak kesulitan menjaga keseimbangan karena perhatian bek lawan tidak lagi hanya tertuju kepada Mbappe. Meskipun bukan pemain paling menonjol dalam laga tersebut, peningkatan performanya menjadi sinyal bahwa chemistry lini depan Prancis mulai terbentuk.

Puncak performa Dembélé terjadi pada pertandingan terakhir fase grup melawan Norwegia. Menghadapi tim yang memang menurunkan banyak pemain pelapis, winger berusia 29 tahun itu tampil luar biasa dengan mencetak hat-trick hanya dalam 25 menit pertama pertandingan. Catatan tersebut menjadikannya pemain Prancis ketiga yang mampu mencetak hat-trick di Piala Dunia setelah Just Fontaine dan Kylian Mbappe. Bahkan, menurut Reuters, tiga gol Dembélé menjadi salah satu hat-trick tercepat dalam sejarah turnamen.

Yang membuat penampilan Dembélé semakin menarik adalah cara ia mencetak gol. Ketiganya lahir melalui pergerakan tanpa bola, kecepatan membaca ruang, dan penyelesaian akhir yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa turnamen sebelumnya. Jika dahulu Dembélé sering dikritik karena kurang efektif di depan gawang, kini ia menunjukkan perkembangan sebagai penyerang yang lebih matang dan efisien. Hal tersebut menjadi modal penting bagi Prancis menjelang babak gugur.

Reuters menilai kekuatan terbesar Prancis justru berasal dari keseimbangan lini depannya. Mbappe menghadirkan ancaman melalui kecepatan, Michael Olise mengatur ritme dan menciptakan peluang, sementara Dembélé menawarkan unsur yang sulit diprediksi. Kemampuannya menggiring bola menggunakan kedua kaki, berpindah posisi sepanjang pertandingan, dan menciptakan situasi satu lawan satu membuat pertahanan lawan kesulitan menentukan siapa yang harus dijaga lebih dulu. Kombinasi tiga pemain tersebut telah menghasilkan sebelas gol dan sembilan assist hanya dalam empat pertandingan pertama turnamen.

Perubahan performa Dembélé juga menjadi bukti pentingnya kesabaran Didier Deschamps. Alih-alih merespons kritik dengan mencadangkannya setelah laga melawan Senegal, pelatih Prancis itu tetap mempertahankan kepercayaannya. Hasilnya, Dembélé menjawab dengan performa terbaiknya dan kini menjadi salah satu kandidat kuat peraih Sepatu Emas maupun pemain terbaik turnamen apabila mampu mempertahankan konsistensinya hingga babak akhir.

Melihat tiga pertandingan fase grup, Dembélé dapat disebut sebagai pemain dengan perkembangan paling besar di skuad Prancis. Ia memulai turnamen di bawah bayang-bayang Mbappe dan Olise, tetapi berhasil mengubah keraguan menjadi kepercayaan melalui performa di lapangan. Jika tren ini terus berlanjut, Prancis akan memiliki tiga pemain depan yang sama-sama mampu menentukan hasil pertandingan—sebuah kemewahan yang membuat Les Bleus layak disebut sebagai salah satu favorit utama juara Piala Dunia 2026.