Keputusan wasit dan Video Assistant Referee (VAR) di Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan setelah dua insiden yang dinilai memiliki kemiripan menghasilkan hukuman yang bertolak belakang. Lionel Messi lolos tanpa kartu saat melakukan tekel keras terhadap kapten Algeria, Aïssa Mandi, sementara penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, justru diganjar kartu merah usai melakukan pelanggaran yang dianggap serupa. Perbedaan keputusan itu memicu gelombang kritik terhadap konsistensi penerapan aturan FIFA dan penggunaan VAR sepanjang turnamen.
Kontroversi bermula ketika Messi melakukan studs-up challenge yang mengenai betis hingga tendon Achilles Mandi pada laga Argentina kontra Algeria di fase grup. Wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, hanya memberikan tendangan bebas tanpa mengeluarkan kartu kuning maupun merah. Tim VAR juga tidak meminta Marciniak meninjau ulang insiden tersebut, sehingga Messi tetap melanjutkan pertandingan dan bahkan mencetak hat-trick. Insiden itu kemudian memicu protes resmi dari Federasi Sepak Bola Algeria kepada FIFA.
Beberapa hari berselang, situasi berbeda dialami Balogun saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Dalam perebutan bola, VAR merekomendasikan peninjauan ulang terhadap pelanggaran yang dilakukan striker Arsenal tersebut. Setelah melihat tayangan ulang, wasit mengubah keputusannya menjadi kartu merah langsung. Hukuman itu membuat Balogun harus meninggalkan lapangan dan otomatis terkena larangan bermain satu pertandingan.
Perbandingan dua insiden tersebut langsung memenuhi media sosial. Tayangan video yang memperlihatkan tekel Messi dan Balogun diputar berdampingan oleh berbagai akun sepak bola dan memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi standar penilaian wasit. Banyak pendukung Amerika Serikat maupun penggemar netral menilai pelanggaran Messi setidaknya memiliki tingkat bahaya yang sama, bahkan ada yang beranggapan lebih serius dibanding pelanggaran Balogun.
ESPN menjadi salah satu media yang mengulas secara khusus dua insiden tersebut. Dalam analisisnya, media itu menyoroti bahwa meski konteks pertandingan tidak sepenuhnya identik, keduanya sama-sama melibatkan kontak dengan telapak sepatu yang mengarah ke kaki lawan. Perbedaan hasil akhir—satu tanpa hukuman kartu, satu berujung kartu merah—menjadi alasan mengapa publik mempertanyakan konsistensi penggunaan VAR di Piala Dunia 2026.
Perdebatan kemudian berkembang menjadi kritik yang lebih luas terhadap standar perwasitan FIFA. Sejumlah mantan pemain, analis, hingga komentator televisi menilai persoalan utama bukanlah apakah Messi atau Balogun pantas dihukum lebih berat, melainkan mengapa dua insiden yang dipandang memiliki kemiripan bisa menghasilkan keputusan yang sangat berbeda. Dalam olahraga yang kini mengandalkan teknologi VAR, konsistensi dianggap sama pentingnya dengan ketepatan keputusan.
Meski demikian, tidak semua pihak sepakat kedua pelanggaran tersebut identik. Sejumlah analis perwasitan berpendapat setiap insiden harus dinilai berdasarkan intensitas benturan, kecepatan, posisi kaki, serta peluang pemain untuk memainkan bola. Faktor-faktor itu membuat dua pelanggaran yang terlihat mirip dalam tayangan ulang belum tentu memenuhi kriteria hukuman yang sama menurut Laws of the Game.
Terlepas dari perbedaan interpretasi tersebut, kasus Messi dan Balogun telah menjadi salah satu simbol terbesar perdebatan mengenai konsistensi wasit di Piala Dunia 2026. Bagi banyak pengamat, kontroversi ini bukan sekadar membahas dua tekel berbeda, tetapi juga menguji apakah FIFA mampu menerapkan standar yang sama kepada setiap pemain, tanpa memandang nama besar maupun status mereka di panggung sepak bola dunia.

Posting Komentar
Posting Komentar