Mantan bek Liverpool yang kini menjadi analis sepak bola, Jamie Carragher, ikut mengkritik konsistensi penggunaan Video Assistant Referee (VAR) di Piala Dunia 2026. Ia menyoroti perbedaan keputusan wasit terhadap kartu merah yang diterima penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, dibandingkan dengan insiden tekel Lionel Messi terhadap kapten Algeria, Aïssa Mandi, yang tidak berujung hukuman kartu.

Menurut Carragher, dua insiden tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai fungsi VAR yang seharusnya menghadirkan konsistensi dalam pengambilan keputusan. Ia menilai Balogun diusir keluar lapangan pada laga babak 16 besar melawan Bosnia dan Herzegovina akibat insiden yang terlihat sebagai benturan dalam perebutan bola, sementara pelanggaran Messi saat menghadapi Algeria justru tidak mendapat sanksi apa pun.

"Inilah keputusan yang membuat orang mempertanyakan untuk apa sebenarnya VAR digunakan. Balogun diusir dalam pertandingan babak gugur Piala Dunia karena insiden yang tampak sebagai benturan tidak disengaja, sementara Messi melakukan pelanggaran yang sangat mirip saat melawan Algeria dan seolah-olah tidak pernah terjadi," ujar Carragher.

Ia menambahkan bahwa publik sepak bola dapat melihat sendiri perbedaan perlakuan terhadap dua insiden tersebut. Menurutnya, tekel Messi dengan posisi telapak sepatu mengarah ke kaki belakang lawan sudah cukup jelas terlihat dalam tayangan ulang, tetapi tidak menghasilkan hukuman, sedangkan Balogun justru menerima kartu merah setelah melalui peninjauan VAR.

"Penggemar sepak bola punya mata. Kita semua melihat tekel Messi dengan telapak sepatu mengarah ke depan dan mengenai bagian belakang kaki lawan, tetapi tidak terjadi apa-apa. Lalu Balogun mendapat pemeriksaan penuh melalui VAR dan langsung dikartu merah. Di mana letak konsistensinya? Menurut saya tidak ada," katanya.

Bagi Carragher, persoalan terbesar bukan sekadar keputusan terhadap dua pemain tersebut, melainkan tidak adanya standar yang diterapkan secara sama. Ia menilai apabila pelanggaran Balogun dianggap layak berujung kartu merah, maka insiden yang melibatkan Messi seharusnya memperoleh penilaian yang sama.

"Yang paling mengganggu adalah tidak adanya standar yang jelas. Kalau itu kartu merah untuk Balogun, maka seharusnya juga kartu merah untuk Messi. Tidak boleh ada satu aturan untuk pemain-pemain terbesar dan aturan lain untuk pemain yang lain. Itu bukan lagi kepemimpinan wasit, melainkan keberpihakan," tegasnya.

Carragher juga menyoroti dampak keputusan tersebut terhadap Amerika Serikat. Kehilangan Balogun pada laga babak gugur, menurutnya, memberikan pengaruh besar terhadap peluang tim untuk melaju lebih jauh di turnamen. Ia memahami mengapa banyak pendukung Amerika mempertanyakan alasan insiden Messi tidak mendapatkan tingkat pemeriksaan yang sama.

"Amerika Serikat kehilangan penyerang utamanya di pertandingan babak gugur karena keputusan seperti ini. Wajar jika banyak orang bertanya mengapa tingkat pemeriksaan yang sama tidak diterapkan pada insiden Messi. Hal itu membuat frustrasi, bukan hanya bagi pendukung Amerika, tetapi juga bagi penonton netral," ujarnya.

Lebih jauh, Carragher menilai VAR justru mulai kehilangan tujuan awalnya. Teknologi tersebut diperkenalkan untuk membantu wasit mengambil keputusan yang lebih adil, namun menurutnya kini justru memunculkan lebih banyak perdebatan dan kecurigaan di kalangan publik sepak bola.

"VAR diperkenalkan untuk membersihkan permainan dan membuatnya lebih adil. Saat ini justru sebaliknya. VAR menciptakan lebih banyak perdebatan, lebih banyak kebingungan, dan semakin banyak kecurigaan bahwa pemain tertentu mendapat perlakuan khusus," katanya.

Ia kembali menegaskan bahwa aturan permainan harus diterapkan secara setara kepada seluruh pemain tanpa memandang status maupun reputasi. Menurut Carragher, konsistensi merupakan fondasi utama agar publik tetap memiliki kepercayaan terhadap sistem perwasitan modern.

"Saya sudah sering mengatakan hal ini. Aturan harus diterapkan dengan cara yang sama kepada setiap pemain di lapangan. Jika Anda sangat ketat terhadap Balogun dalam pertandingan sebesar ini, maka Anda juga harus bersikap sama terhadap Messi. Kalau tidak, seluruh sistem akan kehilangan kredibilitasnya."

Carragher mengakui bahwa pemain-pemain besar sejak dulu kerap memperoleh perlakuan yang lebih lunak dalam beberapa situasi. Namun, dengan hadirnya VAR yang memungkinkan setiap insiden ditinjau dari berbagai sudut, ia menilai tidak ada lagi alasan bagi wasit untuk menghasilkan keputusan yang berbeda terhadap pelanggaran yang memiliki karakteristik serupa.

"Kalau sepak bola ingin keputusan wasit dihormati, maka setiap tekel harus dinilai dengan standar yang sama, apakah itu dilakukan Folarin Balogun, Lionel Messi, atau pemain siapa pun. Kalau tidak, VAR justru lebih banyak merugikan daripada membantu permainan," pungkasnya.