Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi panggung bagi teknologi Video Assistant Referee (VAR) untuk menghadirkan keputusan yang lebih adil. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sejumlah keputusan kontroversial sepanjang turnamen memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi penerapan aturan. Di tengah perdebatan itu, satu nama kembali menjadi pusat perhatian: Lionel Messi.
Perdebatan bermula saat Argentina menghadapi Algeria pada fase grup. Dalam pertandingan tersebut, Messi melakukan tekel dengan posisi telapak sepatu mengarah ke depan (studs-up challenge) yang mengenai betis hingga tendon Achilles kapten Algeria, Aïssa Mandi. Wasit hanya memberikan tendangan bebas tanpa kartu kuning maupun kartu merah, sementara VAR juga tidak meminta peninjauan ulang. Keputusan itu memicu protes resmi dari Federasi Sepak Bola Algeria dan langsung menjadi salah satu kontroversi terbesar di Piala Dunia 2026.
Saat itu, banyak pengamat menilai keputusan wasit terlalu lunak. Jurnalis The Athletic, Oliver Kay, menyebut Messi "beruntung" karena lolos tanpa hukuman. Menurutnya, hasil yang paling masuk akal adalah kartu kuning, sementara kartu merah masih dapat dibenarkan berdasarkan interpretasi aturan permainan. Penilaian serupa juga datang dari sejumlah mantan pemain dan analis yang mempertanyakan mengapa VAR tidak melakukan intervensi terhadap insiden tersebut.
Kontroversi berubah menjadi gelombang kritik beberapa hari kemudian. Penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menerima kartu merah setelah VAR meminta wasit meninjau ulang pelanggaran yang dilakukannya pada babak 16 besar. Meski kedua insiden memiliki konteks pertandingan yang berbeda, banyak penggemar menilai karakter pelanggarannya memiliki kemiripan. Perbedaan hasil akhir—Messi tanpa kartu, Balogun diusir keluar lapangan—menjadi bahan perdebatan yang sulit diabaikan.
Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengkritik situasi tersebut. Ia mempertanyakan fungsi VAR jika dua pelanggaran yang dinilai serupa justru menghasilkan keputusan yang sangat berbeda. Carragher bahkan menyebut, apabila pelanggaran Balogun dianggap layak diganjar kartu merah, maka insiden yang melibatkan Messi juga seharusnya dinilai dengan standar yang sama. Baginya, persoalan terbesar bukan siapa pelakunya, melainkan tidak adanya konsistensi dalam penerapan aturan.
Perdebatan itu kemudian meluas ke media sosial. Julukan "Messi Anak FIFA" kembali menjadi salah satu frasa yang paling sering digunakan oleh warganet. Bagi mereka, julukan tersebut bukan muncul begitu saja, melainkan lahir dari akumulasi berbagai keputusan kontroversial yang dinilai lebih sering berpihak kepada kapten Argentina. Setiap insiden baru kemudian dianggap memperkuat persepsi bahwa pemain-pemain dengan status superstar memperoleh perlakuan yang lebih lunak dibanding pemain lain.
Pandangan itu semakin menguat ketika pelatih Mesir, Hossam Hassan, melontarkan kritik keras setelah timnya tersingkir dari Piala Dunia. Hassan mempertanyakan sejumlah keputusan wasit dan bahkan menyinggung faktor pemasaran turnamen sebagai salah satu alasan mengapa Argentina dinilai diuntungkan. Meski pernyataan tersebut menuai pro dan kontra, reaksi publik menunjukkan bahwa kecurigaan terhadap konsistensi perwasitan sudah telanjur berkembang jauh sebelum komentar itu muncul.
Bagi banyak penggemar sepak bola, persoalannya tidak lagi semata-mata soal ada atau tidaknya konspirasi. Yang menjadi sorotan adalah bagaimana serangkaian keputusan yang berbeda terhadap insiden serupa telah mengikis kepercayaan publik terhadap sistem VAR. Ketika standar penilaian terlihat berubah dari satu pertandingan ke pertandingan lain, ruang bagi spekulasi akan selalu terbuka.
Pada akhirnya, polemik ini menjadi pengingat bahwa teknologi tidak otomatis menghilangkan kontroversi. VAR hanya akan dipercaya apabila digunakan secara konsisten terhadap setiap pemain, tanpa memandang nama besar, reputasi, maupun statusnya. Selama publik masih melihat adanya perbedaan perlakuan dalam situasi yang dianggap serupa, narasi tentang "standar ganda" akan terus hidup. Dan selama pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab dengan jelas, julukan "Messi Anak FIFA" kemungkinan akan terus menjadi bagian dari perdebatan setiap kali Argentina atau Lionel Messi kembali berada di pusat kontroversi.

Posting Komentar
Posting Komentar